Bila ingin berbicara tentang desain biasanya dimulai dengan usaha
memformulasikan pengertian tentang desain, membuat definisi desain, dan mencari arti
desain. Ternyata usaha yang quasi standar ini sama sulitnya dengan membangunkan
Kumbakarna dari tidur lelapnya, dibangunkannya susah tetapi setelah terbangun dari
tidurnya ulahnya susah dikendalikan. Supaya bahasan ini berjalan pada titian aman, kita
tengok sejenak ke buku kamus.
Pada English Oxford Dictionary terbitan tahun 1588, untuk pertama kali disebut
kata “design” yang kira-kira artinya adalah: (1) Rencana atau skema yang dibuat manusia
yang akan direalisasikan. (2) Gambar rencana untuk sebuah karya seni rupa atau seni
terapan (applied art), untuk panduan pelaksanaannya.
Download artikel selengkapnya: Makna Desain Keris
DIarsipkan di bawah: Budaya, Filsafat | Ditandai: Budaya, desain, jawa, keris, makna




Baguuuus bgt blognya
lha link nya kok ngelink lagi? hmm… thx infonya…
aku ingin belajar banyak tentang budaya khususnya budaya jawa
PENDIDIKAN YANG MENGURUNG
(sebuah refleksi)
Frediyanto Hendrayani
Bagai Burung dalam Sangkar
Seekor burung yang indah mengepakkan sayapnya dan terbang dengan bebasnya. Tiba-tiba saja kebebasannya itu sirna. Seorang pemburu berhasil menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sebuah sangkar. Bagi, si pemburu, burung ini begitu indah, apalagi suara kicauannya yang begitu sedap terdengar di telinga. Sang burung tidak lagi memperoleh kebebasannya saat ini. Ia terkurung tak berdaya didalam sangkar. Bahkan, suara kicauannya, yang sebenanrnya adalah suara tangisan dan teriakkannya tidak lagi digubris oleh sang pemburu. Sungguh malang nasib sang burung. Hari-harinya kini hanya ia lalui dengan menangis, makan, minum, tidur. Sang burung tidak lagi bisa terbang bebas seperti dulu. Padahal, eksistensinya sebagai burung muncul ketika ia dapat terbang bebas kemanapun ia suka. Eksistensinya sebagai burung adalah menjadi “liar” dan menyatu dengan alam sebagai rumah terindah; bukan didalam sangkar.
Mau tidak mau, suka tidak suka, jika kita ingin memperoleh ilmu maka kita harus sekolah, karena pandangan umum mengatakan bahwa hanya di sekolah ilmu itu bisa didapat. Maka, ketika memasuki usia sekolah, beramai-ramai kita pergi ke sekolah, beralih dari indahnya dunia yang “liar” ini, dan masuk dalam sebuah sangkar besar bernama “sekolah”. Kita sebenarnya tidak berbeda dengan sang burung. Kita masuk dalam sangkar itu dan memulai hidup yang terkurung dan tidak bisa menikmati kebebasan. Sistem sekolah menjadikan kita tidak dapat “meliarkan” pikiran kita dan harus patuh pada sistem tersebut, kalau ingin pintar. Kita diberi makan dan minum berupa ilmu yang telah distandarkan dan kita harus mempelajari ilmu yang terstandar tersebut, padahal ilmu itu bisa kita dapat dimana saja dan kapan saja, bukan hanya di sekolah. Kita diperkenalkan dengan peraturan dan tata tertib sekolah, yang kalau tidak dituruti akan melahirkan apa yang disebut hukuman, padahal sebelum kita masuk sekolah, kita mungkin tidak pernah mengenal istilah “hukuman”dalam arti yang sebenarnya. Mungkin benar yang dikatakan segelintir orang bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Faktanya, di sekolah kita baru mengetahui bahwa ternyata kita bisa melanggar peraturan dan akhirnya dihukum, hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita alami. Berhadapan dengan hukuman kita pasti akan bersedih bahkan menangis. Kita menjadi manusia yang tidak bahagia. Kebebasan telah dirampas dari kita. Jadilah kita sama dengan sang burung dalam sangkar. Setujukah Anda ?
Makna “Pintar”
Sekolah menjadikan kita sebagai orang pintar, karena hanya dengan sekolah kita bisa memperoleh ilmu. Bisa dikatakan orang pintar adalah orang yang berilmu. Ilmu yang diperoleh itu adalah ilmu yang telah terstandar dengan baku. Seandainya ilmu yang terstandar itu dapat kita kuasai dengan baik, dan mendapatkan hasil berupa nilai-nilai yang tinggi maka kita bisa dikatakan sebagai orang pintar. Kita disebut pintar karena kita menguasai banyak pengetahuan dan memiliki banyak pengetahuan dalam kepala kita.
Sekolah memang menghasilkan banyak orang pintar. Orang pintar yang dihasilkan sekolah tersebut adalah orang pintar yang hanya memiliki pengetahuan dikepalanya. Hal ini dikarenakan sekolah yang sepertinya lebih berfungsi sebagai “sangkar emas” tempat kita menimba ilmu. Kita tidak dapat keluar dari sangkar itu dengan seenaknya. Kita tidak dapat mancari ilmu yang menyimpang dari ilmu yang telah terstandar didalam sekolah. Kita tidak dapat “meliarkan” pikiran kita seenak perut kita. Akibatnya pola pikir kita menjadi pola pikir yang terstandar. Kita tidak dapat lepas dari itu.
Orang pintar seharusnya adalah orang yang selalu mencari ilmu kapan pun, dimana pun. Lingkungan tempat kita hidup telah menyediakan ilmu itu, dan kita tinggal mencari dan menemukan ilmu itu. Tetapi hal ini sepertinya tidak banyak terjadi dalam diri kita yang mengaku sebagai “orang yang terpelajar’. Kita malah beradaptasi dengan lingkungan sekolah sebagai “sangkar emas” tersebut. Akibatnya, kita menjadi malas untuk mencari pengetahuan dan puas dengan pengetahuan yang telah ada dalam kepala kita. Padahal, sejatinya eksistensi kita adalah sebagai makhluk yang terus mencari dan selalu ingin tahu akan banyak hal. Setujukah Anda ?
Menjadi Seperti Anak Kecil
Seorang anak kecil selalu ingin tahu tentang sesuatu. Rupanya anak kecil merepresentasikan eksistensi dari manusia yang sebenarnya sebagai makhluk yang selalu mencari tahu tentang sesuatu. Ciri seperti inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lainnya. Hewan dan tumbuhan tidak memiliki kemampuan untuk mencari tahu tentang sesuatu.
Keingin tahuan manusia kecil ini rupanya dipotong pada saat ia sekolah. Sekolah menjadikan untuk pertama kalinya seorang anak kecil merasa “takut”. Rasa takut inilah yang membuat keingintahuan menjadi tumpul, malah bisa dikatakan mati. Keadaan yang demikian terus dialami hingga seorang manusia kecil tersebut berkembang dan tumbuh menjadi manusia remaja dan dewasa. Tumbuhlah dalam diri manusia-manusia ini semacam inferioritas, yang sekali lagi sekolah memberikan andil terbesar untuk tumbuhnya perasaan inferior ini.
Yesus pernah berkata : “ biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah “. Kata-kata Yesus ini menyiratkan makna bahwa hanya pada-Nya terdapat kebahagiaan. Anak-anak merupakan manusia-manusia kecil yang selalu mencari kebahagiaan. Ia masih polos dan berpikiran jernih. Mungkin inilah yang menyebabkan merekalah yang lebih mudah mencapai kebahagiaan dalam nama Yesus. Pada kalimat lain Yesus mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dihalangi untuk datang, mencari dan menemukan kebahagiaan itu. Sekolah seharusnya tidak menghalangi dan mengurung manusia kecil ini untuk mendapatkan kebahagiaan. Sekolah seharusnya tidak menghalangi dan mengurung manusia kecil ini untuk selalu mencari pengetahuan.
Semestinya kita dapat belajar dari seorang anak kecil. Menjadi seperti anak kecil berarti kita selalu mau mencari pengetahuan dan memiliki hati yang polos dan jernih. Itu berarti menjadi orang pintar dan terpelajar bukanlah hanya karena ia memiliki pikiran yang cemerlang, tetapi juga harus memiliki hati yang lembut, selembut sutra. Menjadi seperti anak kecil berarti menemukan kembali eksistensi sejati kita sebagai makhluk yang terus mencari dan selalu ingin tahu tentang banyak hal. Setujukah Anda ?
NB : Untuk dikonsumsi oleh kalangan terbatas.