Anugerah Paling Indah

Saat SMS istriku masuk yang berisi permohonan bahwa aku harus segera pulang, aku masih berada di kantor. SMS yang isinya meminta agar aku segera pulang karena perut yang selama ini mengandung anakku mulai bereaksi keras. perut mulai mual-mual tapi bukan mau muntah atau mau BAB, tapi ada dorongan jabang bayi dari dalam perut yang ingin segera menyongsong matahari bumi, menyaksikan indahnya dunia beserta isinya, mensyukuri kebesaran Allah atas seluruh alam.

Dengan kecepatan penuh ku pacu sepeda motorku menuju rumah mertua, untuk segera bertemu dengan istri tercinta. Kudapati istriku sedang terbaring di kamar merintih kesakitan sambil memegangi perut yang besar itu. “Istriku… apa yang terjadi padamu”, tanyaku lirih padanya. Dengan tangis terisak menjawab pertenyaanku, “perutku sakit mas…” jawabnya lirih sambil menahan isak tangisnya. Aku Aku bertanya dalam hati “apakah sudah saatnya istriku melahirkan?”

Kucoba untuk menenangkannya, namun sampai sore hari menjelang maghrib sakitnya tak kunjung reda, malah semakin menguat. Kuputuskan untuk membawa istriku ke rumah sakit Margono yang terletak di kota Purwokerto. Menggunakan sepeda motor, kubonceng istriku dengan kecepatan yang super lambat. berbeda dengan ketika aku pulang dari kantor tadi siang yang begitu kencang. Namun di tengah kepanikan masih kucoba untuk tenang dan sempat juga mampir ke pom bensin memberi minum motor yang sudah kelihatan haus (terlihat dari sepeda meter nya menuju tanda empty). perjalanan kulanjutkan sampai rumah sakit dan langsung menuju IGD. Setelah diperiksa dan mengurus ubarampe administrasi kemudian istriku di pindah ke ruang bersalin.

Detik-detik yang menegangkan dimulai saat kudampingin saat persalinan. Rintihan sakit yang begitu memilukan dari bibir istriku membuatku berpikir betapa menjadi seorang ibu adalah sebuah kehormatan yang mengantarkan jabang bayi ke dunia. betapa sakit yang menderanya tak tergambarkan yang datang hampir setiap lima menit sekali dan semakin lama semakin cepat dan semakin sakit. Kupanjatkan doa-doa kepada Allah untuk meringankan sakit yang sedang mendera. Aku ingat teman-temanku maka segera aku perintahkan jariku untuk menari diatas keypad handphone meminta doa untuk mensegerakan kelahiran anak pertamaku. Mas Acihd, pak Wito, pak Fauzi, mba Rahmi, mas Isna, lik Rusimin, kumintakan doa kepada mereka.

Semalam suntuk sudah istriku merasakan sakit dan sampai keesokan harinya belum lahir juga bayi yang dikandungnya. Bidan mengkabarkan bahwa kelahiran bayi diperkirakan jam 14.00, “ah…. ternyata masih lama juga ya”, gumam istriku. Namun perjuangan harus tetap berlanjut, jangan sampai menyerah di tengah jalan. Sempat juga istriku meminta untuk operasi caesar karena tidak kuat menahan sakit. Namun dengan ketulusan hati, aku minta istriku untuk tidak memilih opsi tersebut. Karena sakit yang dideritanya akan semakin alam pasca melahirkan.

Melihat perjuangan istriku yang semakin kepayahan menahan sakit, datang satu sms dari teman yang menyarankan untuk melakukan sholat mutlak 2 rokaat seraya memohon dimudahkan jalan keluarnya sang jabang bayi. Maka dengan cepat aku ambil air wudhu dan melaksanakan sholat mutlak dua rokaat di dalam kamar bersalin istriku, kupanjatkan doa untuk kelancaran dan dimudahkan proses persalinannya. Waktu semakin mendekati jam 12.00 tandanya aku harus segera menuju ke masjid untuk memenuhi panggilan Allah. Berat sebenarnya untuk meninggalkan istri yang sedang kesakitan, namun ada yang lebih penting yaitu menjawab panggilan Allah. Kubisikkan kepada istriku “sayang, mas akan segera melaksanakan sholat jumat dan pada saat itu nanti mas akan berdoa kepada Allah semoga dimudahkan proses keluarnya jabang bayi. Dengan mantap istriku mempersilakanku untuk segera ke masjid. Di dalam masjid aku selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan jalannya persalinan istriku.

Waktu persalinan sudah semakin dekat seperti yang dikabarkan oleh bidan yaitu mendekati pukul 14.00, aku disuruh keluar dari ruang oleh bidan. Kutunggu diluar kamar dan aku hanya bisa mendengar jeritan pilui istriku diantara percakapan para bidan dan coass. Tiba-tiba “oeee…. oeee…. oeeee…” jeritan tangis seorang bayi keluar dari kamar bersalin istriku. Kebahagiaan yang membuncah langsung memuncak di dalam perasaanku. Perasaan senang, bahagia, karena aku telah mendapatkan Anugerah Paling Indah dari Yang Maha Pencipta, pencipta manusia dan alam beserta seluruh isinya.

Lahirlah seorang putri yang sempurna dan cantik masih berbalut darah segar dibawa keluar kamar bersalin untuk dibersihkan. Setelah beberapa saat aku diperbolehkan melihat jabang bayi yang dilahirkan istriku, ialah anakku. Seorang bayi putri yang cantik, inilah Anugerah Paling Indah yang aku rasakan pada hari itu melihat sang buah hati.

Hari Jumat tanggal 11 Juli 2008 jam 14.05 wib, Lahir seorang putri dari pasangan Warto dan Dwi Asih Handayani. Anak pertamaku ku beri nama Qintara Hilya Nesa, maknanya adalah seorang wanita yang merupakan harta berlimpah dari Allah yang akan menjadi perhiasan keluarga, harta berlimpah dan perhiasan yang akan membawa nama harum keluarga. Barokallohu… semoga menjadi wanita Solehah kelah yang berbakti kepada kedua orang tua, guru, dan berguna bagi umat serta berjuang di jalan Allah. Amiiiinnnn…..

Tinggalkan Balasan