Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal
Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para
pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa?
Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal
(tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau
dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk,
memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.
Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk
diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa–sekaligus berarti proses
deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah perjalanan
deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan
rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan
peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan
kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti menyadari
dan mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam
wujud-qidam-baqa’ Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah
ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.
Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian
atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa
dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah
mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka,
dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah
materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju
pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik
diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta
dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana,
melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah,
sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.
Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi menuju
(bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan dan
ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari
hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.
Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi
menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit.
Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi
itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian
transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan
menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan
beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi
memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.
Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak
antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan
(mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat).
Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan
individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di
akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.
Pada ‘citra’ waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan
deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang
ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat
sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya
itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi
kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian
atas semua gumpalan itu.
(Emha Ainun Nadjib/Paramadina/1996)
comot from: http://groups.yahoo.com/group/kenduricinta
DIarsipkan di bawah: Filsafat, Islam, Oase | Ditandai: Budaya, cak nun, emha ainun nadjib, hari raya, ibadah, Islam, padhang mbulan, puasa, ramadhan, rukun islam, sosial, tauhid



